This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 15 September 2019

Tertonadi rebord tempat wisata dan edukasi

Wahana wisata tertonadi reborn, wahana wisata ini terletak di Tetonadi kedung jenar, Kec. Blora, Kab. Blora Jawa Tengah, Indonesia. Di Tertonadi reborn terdapat sebuah kolam renang yang cocok dijadikan tujuan pariwisata untuk bermain maupun berorahraga dengan tiket masuk cuma Rp, 5000 sudah bisa menikmati kolam renang dengan air yang segar sepuasnya. 


Di Tertonadi reborn juga ada bangunan insprastruktur salah satunya adalah setadiun seni tirtonadi yang biasanya di gunakan untuk pertunjukan pertunjukan seni, musik, dan masih banyak lagi.
Selain digunakan sebagai tempat wisata Tirtonadi reborn juga cocok digunakan sebagai wagana edukasi disini anak anak atau pelajar dapat melihat burung burung langka mereka juga bisa berinteraksi dengan rusa rusa yang ada di tertonadi dan hewan hewan yang lainya.







Sumber : IG TV @nabilaputriii_

Sabtu, 14 September 2019

Gunung Cengklik, wahana berselfie

Gunung Cengklik, sebuah perbukitan dengan ketinggian 300 mdpl di Desa Bicak Kecamatan Todanan yang memiliki pemandangan bentang alam hijau mempesona. Berlatar belakang hutan jati hijau di gugusan Pegunungan Kendeng Utara hingga perbatasan Kabupaten Pati, membuat mata enggan beralih untuk menatap indahnya alam ciptaan Tuhan YME. Di tambah dengan ke kreatifan pemuda pemudi di sekitar gunung cengklik yang membuat wahana wahana foto yang bagus membuat para wisatawan berbondong bondong datang untuk berselfie.

Banyaknya para wisatawan yang datang untuk selfie dan memostingnya di media sosial, membuat tempat ini melejit sehingga banyak dikenal terutama para pegiat instagram, twitter dan facebook. Bahkan bisa dikatakan, Gunung Cengklik saat ini baru ngehits di kalangan pemuda Blora.

Dengan kekreatifitas pemuda desa setempat yang berinisiatif membangun sejumlah fasilitas pendukung untuk wahana foto selfie sangat bermanfaat bagi para pengunjung untuk berburu moment. Yang paling disukai adalah tempat duduk serupa rumah pohon dengan posisi lebih tinggi dan berlatar belakang pegunungan. Sangat indah digunakan untuk spot hunting foto bagi pasangan muda mudi.

diketahui, tempat wisata baru Gunung Cengklik dikelola oleh para pemuda Desa Bicak dengan didukung Kepala Desa beserta para perangkatnya. Belum ada campur tangan dari Dinas Pariwisata dalam hal pengelolaannya, murni masih dikelola warga. Mereka berharap ada pembinaan dari dinas terkait agar Desanya bisa menjadi desa wisata yang bisa menyedot ratusan wisatawan setiap hari.Walau pun begitu para pemuda desa setempat tidak kehabisan ide untuk tetep mempercantik gunung cengklik dengan barang barang bekas dan di daur ulang kembali, hal ini dapat meminimalisir biaya yang di keluarkan dari pihak pemuda desa setempat.Sangat Keren bukann??

Pesona Goa Terawang

Goa Terawang Todanan di Kedung wungu Blora Jawa tengah adalah salah satu tempat wisata yang berada di desa kedung wungu, kecamatan todanan, kabupaten blora, provinsi jawa tengah, negara indonesia.Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari. wisata Goa Terawang Todanan di Kedung wungu Blora Jawa tengah memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Wisata Blora Goa Terawang Lokasinya berjarak 32 kilometer arah barat Kota Blora atau 107 kilometer dari Kota Semarang. Untuk mencapai Wisata Blora Goa Terawang sudah tersedia jalan desa yang mulus, dapat ditempuh dari Semarang-Purwodadi-Wirosari menuju ke Kunduran Kabupaten Blora. Tepat di pertigaan depan Puskesmas Kunduran, pengunjung bisa belok kiri melintasi jalan desa yang mulus sepanjang lebih kurang 8 kilometer. Kawasan Wisata Blora Goa Terawang berada persis di tepi jalan. Kalau dari Blora, pengunjung menuju ke arah pertigaan Pasar Ngawen, kemudian membelok ke kanan melintasi jalan menuju ke Japah, Padaan, Ngapus, hingga tiba di Todanan atau sekitar 10 kilometer.

Wisata Blora Goa Terawang ini sudah dikenal sejak zaman raja-raja Jawa untuk tempat bertapa guna memperoleh kekuatan mistis.Pada masa pemerintahan Belanda, Wisata Blora Goa Terawang ini banyak menyimpan sejarah karena sering digunakan untuk pertemuan Bupati Blora semasa RMA Cokronegoro dengan pejabat-pejabat Belanda. Konon, tiap akhir pertemuan selalu diadakan pesta dansa bagi pejabat yang hadir.

Namun, pada masa perang kemerdekaan, Wisata Blora Goa Terawang ini menjadi daerah pertahanan bagi para pejuang. Keunikan di Wisata Blora Goa Terawang ini, para pengunjung leluasa mengamati goa di siang hari.

Kawasan Wisata Blora Goa Terawang merupakan kompleks goa yang memiliki enam goa dalam satu kawasan, ini terbanyak di Jateng. Di dalam kawasan seluas 13 hektar itu terdapat satu goa induk, satu sendang, dan lima goa kecil lainnya. Goa ini merupakan satu-satunya goa yang di dalamnya terang di siang hari karena terkena sinar matahari. Di kompleks Wanawisata Goa Terawang terdapat kawasan arena bermain anak yang terletak 50 meter dari mulut Goa Terawang yang terasa sejuk karena dipayungi ratusan pohon jati besar.

Sumber : http://www.blorakab.go.id/index.php/public/pariwisata/detail/19/goa-terawang



Berburu Senja di Bukit Pencu- Keindahan Alam yang masih asri

Bukit Pencu merupakan bukit yang berada di Provinsi Jawa Tengah. tepatnya di Kecamatan Bogorejo sebelah utara Desa Gayam. Bukit Pencu berada di kawasan pegunungan kapur utara di sebelah timur laut Kabupaten Blora Jawa Tengah. Jarak tempuh nya 1.5 jam dari pusat kota Blora. Lokasi Bukit Pencu sendiri berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan perbatasan Desa Gayam dengan Desa Gandu yang memiliki topografi sebesar 15-0% dengan ketinggian sekitar 400 m di atas permukaan laut, dimana wilayah tersebut merupakan daerah pegunungan

Di puncak Bukit Pencu masyarakat bisa melihat pemandangan hutan jati yang membentang luas, dan aktivitas penambangan batu kapur. Banyak masyarakat atau pengunjung yang sengaja datang pada sore hari untuk melihat terbenamnya matahari. Ini yang jadi pemburuan para wisatawan menunggu matahari terbenam dan juga berfoto dengan beckgraund pemandangan di bukit pencu dan juga dengan cahaya langka yang di pancarkan oleh matahari terbenam yang bisa membuat wisatawan berkunjung di bukit pencu.

Jangan seperti senja yang indahnya hanya sesaat (dokumen pribadi)


Perjalanan harus dilakukan dengan berjalan kaki, karena dari desa ke kaki bukit pencu tak ada lagi jalan yang bisa dilalui dengan kendaraan. Titipkan saja kendaraan ke rumah- rumah penduduk. Jangan kuatir tentang keamanannya, asal memberikan ongkos jasa parkir dan keamanan.

Selayaknya orang yang akan melakukan kegiatan pendakian, persiapkan fisik dan mental dengan prima. Meskipun perjalanan yang ditempuh tidak terlalu lama, namun sangat melelahkan karena menghadapi kondisi jalan yang menanjak dan licin pada saat musim hujan. Sebaiknya perjalanan dilakukan secara berkelompok atau minimal dua orang, dan jangan lupa membawa bekal berupa air mineral dan makanan ringan secukupnya.  

Sepanjang perjalanan menuju ke puncak bukit pencu, akan menyusuri jalan setapak pematang sawah dan diantara rimbunnya pohon- pohon jati yang baru ditanam di lereng bukit. Terpampang sangat jelas pemandangan alamiah perdesaan dipinggiran hutan yang sangat menyejukkan. Dan, tak terasa perjalanan akan sedikit terasa berat dan membuyarkan pikiran. Tetapi setelah sampe puncak pasti akan terbayar dengan manorama pemandangan di bukit pencu.

Sumber: Berbagai sumber

Kesenian Ketoprak – Seni Teater tradisional yang masih eksis di Blora

Ketoprak (kethoprak) adalah kesenian rakyat Jawa yang berasal dari Jawa Tengah. Sebuah bentuk teater yang mengandung unsur utama berupa dialog, tembang dan dagelan dengan diiringi oleh gamelan.

Kesenian Ketoprak bermula di tahun 1887 melalui beberapa pemuda desa yang memainkan lesung sambil menari dan melantunkan tembang dolanan, hingga terciptalah seni pertunjukan sederhana. 

Kemudian pada kisaran tahun 1914, RM Wreksodiningrat yang seorang seniman tari dan wayang wong ( wayang orang ) di Keraton Surakarta menciptakan kesenian kethoprak. Lahirnya kesenian ini adalah terinspirasi oleh kondisi masyarakat saat itu yang memang membutuhkan hiburan baru. Masyarakat sudah bosan dengan hiburan lama yang mereka dengar hanya melalui lisan.
 
Dulu para pemainnya adalah laki-laki karena menyesuaikan tema yang lebih mengarah ke peperangan dan pengembaraan. Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya variasi alur cerita, pemain wanita pun dilibatkan.

Pertunjukan kethoprak biasanya berlangsung sekitar 4-6 jam dengan dialog berbahasa Jawa kromo inggil dan ngoko. Bahasa digunakan sesuai dengan tingkatan, misalnya raja dengan raja, raja dengan abdi, serta abdi atau rakyat biasa dengan sesamanya.

Umumnya dialog para pemain lebih berpedoman pada naskah yang telah dibuat oleh sutradara. Pada mulanya seni tari lebih mendominasi pertunjukan dengan tambahan sedikit dialog. Selanjutnya, meski unsur tari tetap dipertahankan, secara bertahap porsi dialog pun ditambahkan
Sebagai kesenian yang lahir dari rakyat, kethoprak lebih kentara dengan sifat-sifat spontan, improvisasi dan tidak terikat aturan-aturan baku yang formal.

Ketoprak pada masa globalisasi ini dibilang masih lestari di jawa tengah, khususnya di kota Blora adalah salah satu tempat yang masih melestarikan kesenian ketoprak ini. Ketoprak di kota Blora juga gunakan dalam ajang bisnis hiburan. Di Blora banyak kelompok kelompok yang mendirikan kesenian ketoprak ini untuk tetap melestarikan kesenian tradisional dan juga untuk berbisnin di dunia hiburan. Salah satu kelompok tersebut adalah Mustiko  Budoyo. Mustiko Budoyo salah satu kelompok ketoprak yang masih lestari di Blora butuh perjuangan yang kuat tentunya untuk tetap mempertahankan dan melestarikan kesenian tradisional ini (ketoprak). Dengan niat yang kuat untuk nguri nguri budaya.
Mustiko Budoyo merupakan salah satu grup ketoprak asli Blora yang tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini. Dalam pemaparannya, Pandi, ketua grup ketoprak Mustiko Budoyo menyampaikan bahwa konsistensi bertahan dalam bisnis ini karena tanggung jawab kebudayaan diembannya

Artikel ini sudah tayang di Bloranews.com Hargai karya orang lain dengan menyertakan Link sumber : https://www.bloranews.com/ketoprak-blora-mustiko-budoyo-riwayatmu-kini/
Mustiko Budoyo merupakan salah satu grup ketoprak asli Blora yang tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini. Dalam pemaparannya, Pandi, ketua grup ketoprak Mustiko Budoyo menyampaikan bahwa konsistensi bertahan dalam bisnis ini karena tanggung jawab kebudayaan diembannya

Artikel ini sudah tayang di Bloranews.com Hargai karya orang lain dengan menyertakan Link sumber : https://www.bloranews.com/ketoprak-blora-mustiko-budoyo-riwayatmu-kini/
Mustiko Budoyo merupakan salah satu grup ketoprak asli Blora yang tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini. Dalam pemaparannya, Pandi, ketua grup ketoprak Mustiko Budoyo menyampaikan bahwa konsistensi bertahan dalam bisnis ini karena tanggung jawab kebudayaan diembannya

Artikel ini sudah tayang di Bloranews.com Hargai karya orang lain dengan menyertakan Link sumber : https://www.bloranews.com/ketoprak-blora-mustiko-budoyo-riwayatmu-kini/
Mustiko Budoyo merupakan salah satu grup ketoprak asli Blora yang tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini. Dalam pemaparannya, Pandi, ketua grup ketoprak Mustiko Budoyo menyampaikan bahwa konsistensi bertahan dalam bisnis ini karena tanggung jawab kebudayaan diembannya

Artikel ini sudah tayang di Bloranews.com Hargai karya orang lain dengan menyertakan Link sumber : https://www.bloranews.com/ketoprak-blora-mustiko-budoyo-riwayatmu-kini/
Mustiko Budoyo merupakan salah satu grup ketoprak asli Blora yang tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini. Dalam pemaparannya, Pandi, ketua grup ketoprak Mustiko Budoyo menyampaikan bahwa konsistensi bertahan dalam bisnis ini karena tanggung jawab kebudayaan diembannya

Artikel ini sudah tayang di Bloranews.com Hargai karya orang lain dengan menyertakan Link sumber : https://www.bloranews.com/ketoprak-blora-mustiko-budoyo-riwayatmu-kini/
Mustiko Budoyo merupakan salah satu grup ketoprak asli Blora yang tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini. Dalam pemaparannya, Pandi, ketua grup ketoprak Mustiko Budoyo menyampaikan bahwa konsistensi bertahan dalam bisnis ini karena tanggung jawab kebudayaan diembannya

Artikel ini sudah tayang di Bloranews.com Hargai karya orang lain dengan menyertakan Link sumber : https://www.bloranews.com/ketoprak-blora-mustiko-budoyo-riwayatmu-kini/

Sumber: Berbagai Sumber

Jumat, 13 September 2019

Kearifan Lokal Budaya Samin

WARGA dan kehidupan budaya Samin di Jawa Tengah menjadi daya tarik wisata. Tidak saja dilihat dari adat dan kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari warga penganut ajaran Samin Surosentiko tersebut, tetapi juga tingkat kemajuan yang dicapai setiap tahunnya.
Masyarakat Samin atau sedulur sikep merupakan kelompok masyarakat yang hingga kini kukuh mempertahankan ajaran dan keyakinan mereka di Blora (Jawa Tengah).
Kondisi ini kadang menimbulkan pandangan negatif karena dunia luar yang tidak memahami hakekat ajaran Samin ini. Apalagi warga Samin hidup dengan mengisolasi diri dari kehidupan warga pada umumnya hingga baru mulai membuka diri terhadap dunia luar pada 1970-an.
"Mereka hidup dalam kelompok masyarakat dengan aturan dan tatanan tersendiri karena melakukan perlawanan terhadap Penjahahan Belanda," kata pengamat.
Ketika warga Samin yang dikenal selalu berpakaian khas warma hitam mulai membuka diri menerima orang di luar kelompok mereka, banyak warga yang ingin mengetahui secara jelas kehidupan warga tersebut, tidak hanya kekurangan dan kelebihan mereka tetapi juga termasuk keyakinan, ajaran serta adat budaya yang ada.
Di era saat ini, di tengah kehidupan modern yang semakin berkembang pesat, Saminisme semakin menarik. Apalagi secara bertahap warga Samin yang semakin terbuka untuk belajar meningkatkan diri baik pendidikan maupun ekonomi yang selama ini berkutat hanya pada sektor pertanian. Selain itu yang menarik adalah warga yang tetap mempertahankan kearifan lokal yang dimilikinya.
Ketika Samin semakin mengundang perhatian, tidak saja dari warga Indonesia tetapi juga luar negeri, untuk menggali dan mengenal lebih dalam kelompok masyarakat ini, Pemerintah Kabupaten Blora melihat kearifan lokal warga Samin menjadi kekuatan bagi perkembangan wisata budaya, sehingga untuk lebih menarik lagi digelar sebuah kegiatan Gebyar Keberaksaraan dan Festival Adat Samin 2018.
Dengan mengambil tema Blora Berbudaya dan Bermartabat, sejumlah kegiatan dalam gelaran festival Samin dilaksanakan seperti lomba Kothek'an Lesung, lomba Parikan, lomba Membatik dan lomba Menulis Aksara Jawa yang diikuti sekitar 500 peserta baik warga Samin maupun belajar keaksaraan dari Lembaga Pendidikan Keaksaraan (LPK) se-Kabupaten Blora.
Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora Nuril Huda mengatakan Kegiatan yang diikuti 500 peserta ini adalah hasil kerja sama Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PP PAUD DIKMAS) Provinsi Jawa Tengah serta berlakasi di Kampung Samin di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora.
Kampung Samin yang ada di Desa Sambongrejo ini, kata Nuril Huda, adalah salah satu pusat pendidikan masyarakat dalam upaya pemberantasan buta aksara, generasi warga Samin yang sudah tua dulu tidak mengenal membaca dan menulis, namun di bawah bimbingan Mbah Pramugi Pawiro Wijoyo (tokoh setempat) kini telah melek huruf dan bisa menulis.
Tidak hanya itu, lanjut Nuril, warga Samin juga mulai belajar kemandirian ekonomi dengan berlatih membatik, pembuatan makanan ringan dan lainnya sebagai sumber pendapatan baru selain bercocok tanam.
"Namun mereka tetap mempertahankan budaya dan tradisi setempat," tambahnya.
Kepala PP PAUD DIKMAS Jawa Tengah Djajeng Baskoro mengungkapkan apresiasinya kepada sedulur sikep (Samin) Sambongrejo yang telah berpartisipasi aktif melaksanakan pembelajaran masyarakat, khususnya dalam pengurangan buta huruf, sekaligus melestarikan tradisi yang  menjadi daya tarik wisata budaya.
"Kemajuan zaman memang tidak bisa kita hindari, namun jangan sampai kemajuan itu merusak sendi kehidupan kita. Di sinilah perlu adanya edukasi masyarakat, dimana adat istiadat lah yang bisa memfilternya," kata Djajeng.
Sesepuh Samin Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo mengatakan kegiatan ini akan menjadi semangat bagi warga Sedulur Sikep untuk terus mengembangkan pendidikan masyarakat, karena tidak hanya pemberantasan buta huruf saja namun juga pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengenalan budaya tradisional.
Hasilnya yang dipertunjukkan pada acara ini, lanjut Peamuji, menjadi kemasan yang menarik bagi wisatawan untuk berkunjung mengenal lebih dalam tentang warga samin berikut adat budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya.
 
Sumber : WARGA dan kehidupan budaya Samin di Jawa Tengah menjadi daya tarik wisata. Tidak saja dilihat dari adat dan kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari warga penganut ajaran Samin Surosentiko tersebut, tetapi juga tingkat kemajuan yang dicapai setiap tahunnya.
Masyarakat Samin atau sedulur sikep merupakan kelompok masyarakat yang hingga kini kukuh mempertahankan ajaran dan keyakinan mereka di Blora (Jawa Tengah) dan Bojonegoro (Jawa Timur) serta di kawasan Pegunungan Kendeng.
Kondisi ini kadang menimbulkan pandangan negatif karena dunia luar yang tidak memahami hakekat ajaran Samin ini. Apalagi warga Samin hidup dengan mengisolasi diri dari kehidupan warga pada umumnya hingga baru mulai membuka diri terhadap dunia luar pada 1970-an.
"Mereka hidup dalam kelompok masyarakat dengan aturan dan tatanan tersendiri karena melakukan perlawanan terhadap Penjahahan Belanda," kata pengamat.
Ketika warga Samin yang dikenal selalu berpakaian khas warma hitam mulai membuka diri menerima orang di luar kelompok mereka, banyak warga yang ingin mengetahui secara jelas kehidupan warga tersebut, tidak hanya kekurangan dan kelebihan mereka tetapi juga termasuk keyakinan, ajaran serta adat budaya yang ada.
Di era saat ini, di tengah kehidupan modern yang semakin berkembang pesat, Saminisme semakin menarik. Apalagi secara bertahap warga Samin yang semakin terbuka untuk belajar meningkatkan diri baik pendidikan maupun ekonomi yang selama ini berkutat hanya pada sektor pertanian. Selain itu yang menarik adalah warga yang tetap mempertahankan kearifan lokal yang dimilikinya.
Ketika Samin semakin mengundang perhatian, tidak saja dari warga Indonesia tetapi juga luar negeri, untuk menggali dan mengenal lebih dalam kelompok masyarakat ini, Pemerintah Kabupaten Blora melihat kearifan lokal warga Samin menjadi kekuatan bagi perkembangan wisata budaya, sehingga untuk lebih menarik lagi digelar sebuah kegiatan Gebyar Keberaksaraan dan Festival Adat Samin 2018.
Dengan mengambil tema Blora Berbudaya dan Bermartabat, sejumlah kegiatan dalam gelaran festival Samin dilaksanakan seperti lomba Kothek'an Lesung, lomba Parikan, lomba Membatik dan lomba Menulis Aksara Jawa yang diikuti sekitar 500 peserta baik warga Samin maupun belajar keaksaraan dari Lembaga Pendidikan Keaksaraan (LPK) se-Kabupaten Blora.
Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora Nuril Huda mengatakan Kegiatan yang diikuti 500 peserta ini adalah hasil kerja sama Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PP PAUD DIKMAS) Provinsi Jawa Tengah serta berlakasi di Kampung Samin di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora.
Kampung Samin yang ada di Desa Sambongrejo ini, kata Nuril Huda, adalah salah satu pusat pendidikan masyarakat dalam upaya pemberantasan buta aksara, generasi warga Samin yang sudah tua dulu tidak mengenal membaca dan menulis, namun di bawah bimbingan Mbah Pramugi Pawiro Wijoyo (tokoh setempat) kini telah melek huruf dan bisa menulis.
Tidak hanya itu, lanjut Nuril, warga Samin juga mulai belajar kemandirian ekonomi dengan berlatih membatik, pembuatan makanan ringan dan lainnya sebagai sumber pendapatan baru selain bercocok tanam.
"Namun mereka tetap mempertahankan budaya dan tradisi setempat," tambahnya.
Kepala PP PAUD DIKMAS Jawa Tengah Djajeng Baskoro mengungkapkan apresiasinya kepada sedulur sikep (Samin) Sambongrejo yang telah berpartisipasi aktif melaksanakan pembelajaran masyarakat, khususnya dalam pengurangan buta huruf, sekaligus melestarikan tradisi yang  menjadi daya tarik wisata budaya.
"Kemajuan zaman memang tidak bisa kita hindari, namun jangan sampai kemajuan itu merusak sendi kehidupan kita. Di sinilah perlu adanya edukasi masyarakat, dimana adat istiadat lah yang bisa memfilternya," kata Djajeng.
Sesepuh Samin Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo mengatakan kegiatan ini akan menjadi semangat bagi warga Sedulur Sikep untuk terus mengembangkan pendidikan masyarakat, karena tidak hanya pemberantasan buta huruf saja namun juga pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengenalan budaya tradisional.
Hasilnya yang dipertunjukkan pada acara ini, lanjut Peamuji, menjadi kemasan yang menarik bagi wisatawan untuk berkunjung mengenal lebih dalam tentang warga samin berikut adat budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya.
 
Sumber :
WARGA dan kehidupan budaya Samin di Jawa Tengah menjadi daya tarik wisata. Tidak saja dilihat dari adat dan kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari warga penganut ajaran Samin Surosentiko tersebut, tetapi juga tingkat kemajuan yang dicapai setiap tahunnya.
Masyarakat Samin atau sedulur sikep merupakan kelompok masyarakat yang hingga kini kukuh mempertahankan ajaran dan keyakinan mereka di Blora (Jawa Tengah) dan Bojonegoro (Jawa Timur) serta di kawasan Pegunungan Kendeng.
Kondisi ini kadang menimbulkan pandangan negatif karena dunia luar yang tidak memahami hakekat ajaran Samin ini. Apalagi warga Samin hidup dengan mengisolasi diri dari kehidupan warga pada umumnya hingga baru mulai membuka diri terhadap dunia luar pada 1970-an.
"Mereka hidup dalam kelompok masyarakat dengan aturan dan tatanan tersendiri karena melakukan perlawanan terhadap Penjahahan Belanda," kata pengamat.
Ketika warga Samin yang dikenal selalu berpakaian khas warma hitam mulai membuka diri menerima orang di luar kelompok mereka, banyak warga yang ingin mengetahui secara jelas kehidupan warga tersebut, tidak hanya kekurangan dan kelebihan mereka tetapi juga termasuk keyakinan, ajaran serta adat budaya yang ada.
Di era saat ini, di tengah kehidupan modern yang semakin berkembang pesat, Saminisme semakin menarik. Apalagi secara bertahap warga Samin yang semakin terbuka untuk belajar meningkatkan diri baik pendidikan maupun ekonomi yang selama ini berkutat hanya pada sektor pertanian. Selain itu yang menarik adalah warga yang tetap mempertahankan kearifan lokal yang dimilikinya.
Ketika Samin semakin mengundang perhatian, tidak saja dari warga Indonesia tetapi juga luar negeri, untuk menggali dan mengenal lebih dalam kelompok masyarakat ini, Pemerintah Kabupaten Blora melihat kearifan lokal warga Samin menjadi kekuatan bagi perkembangan wisata budaya, sehingga untuk lebih menarik lagi digelar sebuah kegiatan Gebyar Keberaksaraan dan Festival Adat Samin 2018.
Dengan mengambil tema Blora Berbudaya dan Bermartabat, sejumlah kegiatan dalam gelaran festival Samin dilaksanakan seperti lomba Kothek'an Lesung, lomba Parikan, lomba Membatik dan lomba Menulis Aksara Jawa yang diikuti sekitar 500 peserta baik warga Samin maupun belajar keaksaraan dari Lembaga Pendidikan Keaksaraan (LPK) se-Kabupaten Blora.
Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora Nuril Huda mengatakan Kegiatan yang diikuti 500 peserta ini adalah hasil kerja sama Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PP PAUD DIKMAS) Provinsi Jawa Tengah serta berlakasi di Kampung Samin di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora.
Kampung Samin yang ada di Desa Sambongrejo ini, kata Nuril Huda, adalah salah satu pusat pendidikan masyarakat dalam upaya pemberantasan buta aksara, generasi warga Samin yang sudah tua dulu tidak mengenal membaca dan menulis, namun di bawah bimbingan Mbah Pramugi Pawiro Wijoyo (tokoh setempat) kini telah melek huruf dan bisa menulis.
Tidak hanya itu, lanjut Nuril, warga Samin juga mulai belajar kemandirian ekonomi dengan berlatih membatik, pembuatan makanan ringan dan lainnya sebagai sumber pendapatan baru selain bercocok tanam.
"Namun mereka tetap mempertahankan budaya dan tradisi setempat," tambahnya.
Kepala PP PAUD DIKMAS Jawa Tengah Djajeng Baskoro mengungkapkan apresiasinya kepada sedulur sikep (Samin) Sambongrejo yang telah berpartisipasi aktif melaksanakan pembelajaran masyarakat, khususnya dalam pengurangan buta huruf, sekaligus melestarikan tradisi yang  menjadi daya tarik wisata budaya.
"Kemajuan zaman memang tidak bisa kita hindari, namun jangan sampai kemajuan itu merusak sendi kehidupan kita. Di sinilah perlu adanya edukasi masyarakat, dimana adat istiadat lah yang bisa memfilternya," kata Djajeng.
Sesepuh Samin Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo mengatakan kegiatan ini akan menjadi semangat bagi warga Sedulur Sikep untuk terus mengembangkan pendidikan masyarakat, karena tidak hanya pemberantasan buta huruf saja namun juga pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengenalan budaya tradisional.
Hasilnya yang dipertunjukkan pada acara ini, lanjut Peamuji, menjadi kemasan yang menarik bagi wisatawan untuk berkunjung mengenal lebih dalam tentang warga samin berikut adat budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya
 
Sumbar : https://mediaindonesia.com/read/detail/201181-kearifan-lokal-dan-budaya-samin-menjadi-daya-tarik-wisata

Seni Tayub

Seni tayub Blora memiliki ciri dan ritme musik serta kostum yang tidak dimiliki daerah lain. Kehidupan penarinya sangat menarik untuk diapresiasi. Mereka selalu berjuang dan bertahan dengan kesenian tradisional di antara kembang maraknya kesenian lain.
Tidak hanya di dalam Kabupaten Blora, tetapi bagi warga yang tinggal di perantauan juga banyak yang menggemari tayuban.
Melalui vokal dan gerakan tari, sosok penari tayub mampu menjadi sugesti dan media komunikasi yang aspiratif serta inspiratif sejak dari dulu hingga kini.
“Sebagai seni yang komunikatif, saya bangga, apalagi muncul gagrak  Ledhek Barangan yang penarinya pelajar dan mahasiswa. Dalam kemasannya juga bisa diisi dengan pesan publik,” kata Teguh Rudianto, salah seorang pemerhati seni tradisi Kabupaten Blora.
Diungkapkan, pembinaan yang dilakukan secara kontinyu Pemkab Blora melalui Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora dalam perjalanan sekian puluh tahun terakhir, telah berhasil memprotek kesan minir kepada sosok penari tayub.
“Dengan mengemas tata panggung, estetika, dan etika menari, seperti dalam bentuk festival tayub atau pertunjukkan panggung terbuka yang sering digelar, kian hari kian menambah komunitas tayub,” ujarnya.
Tanpa mengesampingkan seni tardisi dan moderen lainnya, diakui atau tidak, penari-penari tayub baru bermunculan dari desa di tiap wilayah kecamatan se-Blora, yang belakangan mampu mengangkat citra Blora menjadi gudangnya penari tayub setelah julukan kota sate dan penghasil kayu jati serta minyak dan gas.
Seni tayub, kata dia,  sudah menjadi ajang yang komunikatif dan siapapun bisa masuk menikati secara berpasangan tanpa mengenal kasta, bahkan bisa masuk  untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat membangun dan pemberdayaan.
“Bapak Bupati Djoko Nugroho juga memberikan apresiasi yang positif pada seni tayub,” ujarnya.
Kepada semua warga masyarakat agar ikut melestarikan seni tayub sebagai seni peninggalan nenek moyang yang menghiasi banyaknya ragam budaya Blora.
“Terutama orang tua yang putra-putrinya mempunyai bakat seni tari, sebaiknya di didukung. Kan banyak sekolah seni yang mampu mencetak seniman-seniman handal. Jadi tidak cukup autodidak, melainkan disertai disiplin ilmu yang mumpuni,” katanya.
Sebab, seiring irama perkembangan serta peradaban budaya, maka seperti halnya dengan perkembangan seni tradisi yang lain, tayub Blora telah mengalami pelebaran fungsi.
Fungsi ritual, meskipun sampai kini masih dipertahankan, namum secara makro kebanyakan komunitas tayub telah menjadikan tayub sebagai seni hiburan, yang setiap saat bisa untuk dikonsumsi. Banyak kaset, kepingan CD tayub yang beredar di pasaran, yang setiap saat bisa divisualisasikan.
“Hal itu menunjukkan pernak-pernik kehidupan penari tayub Blora sekarang ini tampak lebih mapan dan berkecukupan, komunitas pun makin bermunculan,” pungkasnya. (MC Kab Blora/Ega/Kus)

Sumber:http://infopublik.id/read/163629/seni-tayub-blora-media-komunikasi-yang-aspiratif.html